ADDRESS
Jakarta, Indonesia
CONTACT
admin@performance.id
Top-down
Mekanisme penyusunan dari atas kebawah
Penyusunan informasi kinerja dilakukan mulai
jenjang yang strategis, jenjang manajerial, dan
terakhir jenjang operasional.
Logic model
Logic model sesuai fungsi organisasi
Logic model merupakan kerangka logika yang
menggambarkan bagaimana fungsi suatu
organisasi bekerja.
Hierarki
Hierarki fungsi pada setiap tingkatan
Fungsi suatu organisasi digambarkan secara utuh
mulai dari jenjang strategis, manajerial, sampai
pada jenjang operasional.
KONSEP DASAR PENATAAN ADIK
TIGA PENDEKATAN UTAMA
Konsep penataan arsitektur dan informasi (ADIK) didasarkan pada tiga pendekatan utama, yaitu penyusunan informasi sesuai konsep logic model dengan
berbasis pada fungsi, adanya hierarki fungsi dalam suatu organisasi, dan mekanisme penyusunan informasi yang bersifat top-down. Ketiga pendekatan
tersebut akan menghasilkan anatomi informasi suatu organisasi dari level yang strategis sampai dengan level operasional. Anatomi fungsi organisasi ini sangat
berguna pada saat menyusun strategi organisasi.
LOGIC MODEL SESUAI FUNGSI ORGANISASI
Logic model merupakan visualisasi yang dapat memberikan informasi bagaimana suatu entitas menjalankan fungsinya. Pada dasarnya terdapat tiga
informasi utama yang dapat menjelaskan fungsi suatu entitas, yaitu:
1.
Input, yaitu sumberdaya yang dimiliki atau diperlukan entitas tersebut untuk menjalankan fungsinya
2.
Aktivitas, yaitu pekerjaan atau tugas dalam mengelola sumberdaya yang dimiliki
3.
Output, yaitu produk yang akan dihasilkan oleh entitas untuk memenuhi kebutuhan entitas lainnya.
Memahami Fungsi
Memahami fungsi organisasi ibarat memahami “siapa saya” dan “mengapa saya ada”. Konsep ini juga mengandung pengertian bahwa tidak ada satu
entitas pun yang diciptakan/diadakan/dibentuk/didirikan dengan sia-sia sehingga segala sesuatu pasti mempunyai fungsi. Memahami fungsi suatu
organisasi juga memerlukan pemahaman yang jelas atas siapa “customer”-nya karena tidak ada satu entitas pun akan ada/diciptakan/dibentuk/didirikan
hanya untuk dirinya sendiri.
Secara sederhana, fungsi dapat digambarkan sebagaimana analogi di bawah ini.
Logic Model
Entitas A ada karena entitas B memerlukan produk dari A. Demikian pula entitas B ada karena entitas C memerlukan produk dari B. Dengan kata lain,
entitas A ada untuk memenuhi kebutuhan B agar B dapat menjalankan fungsinya untuk memenuhi kebutuhan C dan seterusnya. Sekiranya A tidak
menjalankan fungsinya atau tidak berfungsi, maka akan mempengaruhi fungsi B yang berdampak mempengaruhi fungsi C. Sekiranya B dapat
menjalankan fungsinya dengan baik baik tanpa keberadaan A, maka kehadiran A sudah tidak berguna atau tidak diperlukan lagi.
Apabila beberapa entitas disandingkan sebagaimana telah dijelaskan di bagian atas, maka akan tergambar sebagai berikut:
Dari gambaran di atas, dikenal istilah “outcome” yang secara sederhana dapat diartikan kondisi yang diharapkan terjadi pada entitas lain (dalam hal ini B
dan/atau C). Outcome inilah yang menjadi alasan mengapa entitas A ada. Rangkaian outcome yang diharapkan terjadi pada entitas lain meliputi:
1.
Tahu
2.
Paham
3.
Sadar
4.
Bisa
5.
Mau
6.
Biasa
7.
Status
Dalam manajemen pemerintahan, apabila outcome ke-7 (status) sudah terpenuhi, maka kondisi masyarakat atau lingkungan secara keseluruhan akan
berjalan dengan baik.
Keseluruhan logic model di atas dapat diringkas sebagaimana gambaran di bawah ini.
HIERARKI FUNGSI
Suatu entitas terdiri atas beberapa bagian dan masing masing bagian mempunyai fungsi khusus dalam rangka menunjang fungsi utama entitas berkenaan.
Rangkaian fungsi dalam suatu entitas akan membentuk suatu hierarki fungsi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat analogi berikut ini.
Penyusunan informasi kinerja berdasarkan logic model harus dilakukan secara top-down agar terwujud relevansi rangkaian informasi dari jenjang tertinggi
sampai terendah. Apabila informasi di tingkatan atasnya belum jelas, maka hal tersebut akan berpengaruh pada kualitas informasi di tingkatan dibawahnya,
bahkan berpotensi tidak sinkron.
Kita akan mengambil contoh sebuah mobil sebagai analogi untuk menggambarkan suatu hierarki fungsi. Mobil mempunyai fungsi utama mengantar
seseorang dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat, aman, dan nyaman.
Untuk dapat menjalankan fungsi utama tersebut, sebuah mobil terdiri atas beberapa bagian yang masing-masing mempunyai fungsi khusus, yaitu:
1.
Engine management system, berfungsi menghasilkan tenaga;
2.
Steering, dinamics and stability control system, berfungsi mengendalikan dan menstabilkan mobil;
3.
Active safety management system, berfungsi melindungi keselamatan pengendara;
4.
Interior and comfort control system, berfungsi memberikan kenyaman bagi pengendara.
Bagian mesin juga terdiri atas bagian-bagian yang secara prinsip sebagai berikut:
1.
Sistem starter
2.
Sistem bahan bakar
3.
Sistem pengapian
4.
Sistem pengisian
5.
Sistem pendingin
6.
Sistem pelumasan
7.
Sistem pembuangan gas bekas
Bagian pengapian pun terdiri atas beberapa bagian lagi, yang salah satunya adalah busi.
Masing-masing bagian di berbagai tingkatan pada analogi mobil mempunyai fungsi masing-masing. Pada seiap bagian sistem mobil di atas, masing-masing
terdapat elemen logic model yang meliputi resources (input), aktivitas, output sesuai dengan fungsinya masing-masing. Analogi serupa juga dapat dapat
dilihat pada hierarki sistem organ manusia.
Kondisi yang sama juga terdapat pada suatu organisasi pemerintahan dimana dalam suatu organisasi tersebut terdapat suatu hierarki mulai jenjang yang
tertinggi sampai dengan yang terendah yang masing-masing mempunyai fungsi spesifik.
Apabila pada setiap jenjang fungsi dimaksud diterapkan logic model, maka akan tampak sebagaimana arsitektur di bawah ini.
Arsitektur di atas merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari arsitektur sebelumnya dimana perbedaan tersebut dapat dilihat seperti bagan berikut
ini.
PENDEKATAN TOP-DOWN
Indikator dan Target Kinerja
Indikator kinerja merupakan tanda yang berfungsi sebagai alat ukur pencapaian kinerja, baik outcome maupun output. Dimensi ukuran kinerja umumnya
meliputi:
•
Kuantitas
•
Kualitas
•
Waktu (timeframe/jangka waktu)
•
Biaya
Dimensi lain dapat juga digunakan sepanjang sangat diperlukan sesuai kebutuhan dan kepentingan pihak-pihak yang berkepentingan dengan tetap
mempertimbangkan aspek kejelasan dalam proses pengukurannya. Dimensi lain misalnya: “kehandalan”.
Indikator kinerja yang baik memenuhi kriteria sebagai berikut:
•
Relevant
: merefleksikan nilai-nilai atas kinerja berkenaan;
•
Well-defined
: definisi indikator jelas dan tidak bermakna ganda sehingga mudah untuk dimengerti dan digunakan;
•
Measurable
: indikator yang digunakan bisa diukur dengan skala penilaian tertentu yang disepakati;
•
Appropriate
: pemilihan indikator yang sesuai dengan upaya peningkatan kinerja;
•
Reliable
: indikator yang digunakan akurat dan dapat mengikuti perubahan tingkatan kinerja.
Indikator bukanlah segala sesuatu yang sekedar bisa diukur. Secara redaksional, kata-kata seperti “meningkatkan”, “menambah”, “mencapai” bukan termasuk
kriteria indikator.
Ukuran kinerja yang ditetapkan harus fokus pada prioritas dan kepentingan serta dimensi customer atau target group.
Indikator kinerja harus dilengkapi dengan formula penghitungannya dengan didukung data yang dapat tersedia secara rutin dengan sumber data yang kredibel.
Target kinerja menunjukkan sasaran kinerja spesifik yang akan dicapai dalam periode waktu yang telah ditentukan. Target kinerja biasanya diwujudkan dalam
bentuk:
•
Angka
•
Persentase
•
Rasio
•
Point estimates
•
Range